ASAL USUL MENJADI CATLOVER
ASAL USUL MENJADI CATLOVER
Hallo! Apa kabar? Bagaimana kondisi fisik dan psikis saat ini? Setelah hiatus 3 tahun, rasanya butuh lagi meningkatkan skill typing untuk menyusun scriptsweet terseyeng. Berat ya kondisi sekarang? Toss dulu atuh I feel u, guys!
Ini tulisan teringat dari ada seorang pembicara yang datang saat masa orientasi SMP,
dia bilang coba tuliskan 10 impian kamu di masa yang akan datang. Agitha ikutilah
perintahnya, lupa apa saja itu, tapi ada 1 yang masih terngiang-ngiang yaitu
membangun mini zoo (kalau sekarang maunya penangkaran). Bocah SMP kepikiran ini buat apa coba. Tulisan itu adalah
target yang seiring berjalan waktu bakal tercapai atau ngga tergantung dari usaha.
Ternyata tulisan Agitha bocah mengantarkan Agitha yang saat ini. Sejak kecil
emang udah cita-cita mau menjadi dokter hewan. Why? Ngga tau tanya saja
sama Agitha kecil. Sebenarnya ada beberapa momen yang jadi latarbelakangnya, berikut penjelasannya.
Hobi papa memelihara hewan, mulai dari ikan ada arwana, lohan, alligator (eh ikan bukan sih yang pipih gituloh mocongnya runcing), cupang, dan ikan hias kicil-kicil lainnya; burung (aves) ada burung dara, merpati, perkutut, kakak tua, beo, muray, love bird, ayam jago, ayam kate, ayam batik, ayam ketawa, dan ayam sorry lupa lagi; dan kura-kura.
Ada beberapa kali momen yang buat sedih sampai nangis, Agitha did it bukan papa. Masih ingat rasanya dari banyaknya burung merpati yang dipelihara sampai bertelur dan anaknya besar, ada satu waktu ketika burungnya kabur terus banyak yang mati, sedih dong Agitha. Ada momen juga kura-kura yang dirawat dari kecil lama banget tumbuhnya ya masih kecil juga dia udah wafat kelindes, nangis dong Agitha. Belum lagi kakak tua, si Mikum yang tiap ketemu mengucapkan salam hmm soleh yah mati juga, pernah juga peliharaan ayam (lupa jenisnya) yang udah beberapa kali bertelur dan banyak anak, ayamnya sakit terus mati.
Papa menurunkan gen pecinta hewannya ke abang juga. Abangke kecil punya peliharaan cupang dan lobster, sama kucing yang sempet diumpetin di lemari takut ketahuan mama HAHA, ini momen yang suka disindir mama. Agitha yang takut kucing aja luluh, karena si Mpus jinak tapi hilang. Pernah pelihara si Emak belang yang punya anak dan anaknya tertabrak sepeda motor, masih ingat banget itu nangis sesegukan gara-gara kucing meninggal dipelukan dia berdarah, sempet muntah dan poop, sesakit itu sakaratul maut. Beberapa kali kehilangan juga ngga buat kapok, justru tetap memelihara kucing sebab kebutuhan bukan keinginan.
Pengalaman Agitha juga saat mau otw kampus, di jalan ricuh ada mobil yang diam dan di klakson dari belangkang oleh pengendara motor. Minggir dulu dong Agitha, tiba-tiba ada teriakan ibu-ibu pas dilihat si kucing kecil terlindas. Jangan dibayangkan, kalian belum tertu mau menggendong kucing kecil sekarat seperti orang-orang saat itu. Kecil, abu kehitaman, polet belang-belang, darah segar mengalir dari kepala tepatnya didekat matanya, dengan nafas terengah-engah dan mata sayunya teriak tolong (dibaca meong) di saat akhir hidupnya bertemu dengan malaikat maut hingga tatapan terakhirnya pas sekali dengan nafas terakhirnya. Ah jadi melow gini.
Yups, momen-momen itu yang buat Agitha
merasa, kalau aku dokter hewan mungkin membantu mereka berusaha tetap sehat bisa
lebih baik daripada sekedar memelihara dan enjoyed that moments with them.
Jadi, itu alasannya suka sama hewan dan utamanya kucing, selain karena tingkahnya
yang sulit ketebak si hewan cuek yang susah dipanggil ini penuh banyak misteri
yang bisa digali.
Udah gitu aja sih untuk come back Agitha sekarang, cukup sekian dan terimagajih, jangan lupa taati protokol kesehatan yah!
Komentar
Posting Komentar